Rahmawati Sambangi KPAI Laporkan Lubang Tambang Perenggut Nyawa


Kampanye

Rahmawati Sambangi KPAI Laporkan Lubang Tambang Perenggut Nyawa


Oleh JATAM

26 Februari 2015





Penyerahan Dokumen oleh Misransyah ke Putu Elvina,Komisioner KPAI (Sumber Photo :Wulang)

Jakarta – JATAM. Rahmawati bersama JATAM KALTIM, WALHI dan Change.org sambangi kantor Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) untuk melaporkan kasus kematian sembilan anak dilubang bekas galian tambang batubara di Samarinda. Kamis (26/02/2015)

 Dalam pertemuan tersebut, Rahmawati meminta KPAI untuk segera menindaklanjuti laporan ini mulai dari investigasi hingga melakukan langkah hukum terkait perlindungan anak. Dalam pertemuan tersebut mereka ditemui oleh dua Komisioner KPAI Yakni Maria Ulfah Anshor dan Putu Elvina.
“Kejadian di Samarinda merupakan kekerasan yang dilakukan secara structural terhadap anak. Faktanya, negara melakukan pembiaran pada perusahaan yang tidak melakukan reklamasi atau penutupan kembali lubang pasca eksploitasi. Fakta lain, hak anak untuk memperoleh lingkungan yang memadai tidak dipenuhi negara, karena lingkungan bermain anak telah dijejali dengan pertambangan. Selain itu anak- anak hidup bertetangga dengan bencana” ujar Koordinator Jaringan Advokasi Tambang Merah Johansyah.
Kepala Divisi Kajian dan Penggalangn Sumber Daya WALHI Khalisa Chalid menyatakan bahwa tingkat kerusakan alam di Samarinda harus diseriusi oleh pemerintah agar tidak terjadi korban selanjutnya.
Ditempat yang sama,KPAI menyampaikan akan segera menindaklanjuti dan berkoordinasi dengan pihak terkait. Seperti komnas HAM dan Kementerian LHK.
“Ini jelas pelanggaran pidana terutama terhadap hak-hak anak. Kami akan turun juga ke lokasi untuk ikut investigasi. Dari hasil investigasi, akan jadi langkah apa yang akan diambil KPAI,” ujar Maria Ulfah.
Putu Elvina meminta selalu diingatkan agar terbangun komunikasi berkelanjutan sampai kasus ini diselesaikan.
Koordinator Penggalang Dukungan JATAM Umbu Wulang mengingatkan agar KPAI harus menggunakan momentum ini agar bangsa ini punya contoh baik dalam penegakan hukum terkait perlindungan anak dari kekerasan struktural.
“Kasus Samarinda dapat menjadi pemicu bagi KPAI dalam menelisik semua kasus anak dilingkup eksploitasi sumber daya alam. Misalnya perusahaan mempekerjakan anak dibawah umur diwilayah pertambangan,” jelasnya.

Pertemuan ini berlangsung kurang lebih dua jam dan diakhiri dengan penyerahan dokumen laporan kepada komisioner KPAI oleh Misransyah, ayah almarhum Raihan.
“Kami berharap cukup anak kami yang terakhir menjadi korban di lubang tambang bekas batu bara di Samarinda. Kami dating kesini (Jakarta,red) untuk melaporkan kejadian ini,” tutur Misransyah dengan berlinang air mata.(Wulang)











© 2024 Jaringan Advokasi Tambang





Kampanye

Rahmawati Sambangi KPAI Laporkan Lubang Tambang Perenggut Nyawa


Share


Oleh JATAM

26 Februari 2015



Penyerahan Dokumen oleh Misransyah ke Putu Elvina,Komisioner KPAI (Sumber Photo :Wulang)

Jakarta – JATAM. Rahmawati bersama JATAM KALTIM, WALHI dan Change.org sambangi kantor Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) untuk melaporkan kasus kematian sembilan anak dilubang bekas galian tambang batubara di Samarinda. Kamis (26/02/2015)

 Dalam pertemuan tersebut, Rahmawati meminta KPAI untuk segera menindaklanjuti laporan ini mulai dari investigasi hingga melakukan langkah hukum terkait perlindungan anak. Dalam pertemuan tersebut mereka ditemui oleh dua Komisioner KPAI Yakni Maria Ulfah Anshor dan Putu Elvina.
“Kejadian di Samarinda merupakan kekerasan yang dilakukan secara structural terhadap anak. Faktanya, negara melakukan pembiaran pada perusahaan yang tidak melakukan reklamasi atau penutupan kembali lubang pasca eksploitasi. Fakta lain, hak anak untuk memperoleh lingkungan yang memadai tidak dipenuhi negara, karena lingkungan bermain anak telah dijejali dengan pertambangan. Selain itu anak- anak hidup bertetangga dengan bencana” ujar Koordinator Jaringan Advokasi Tambang Merah Johansyah.
Kepala Divisi Kajian dan Penggalangn Sumber Daya WALHI Khalisa Chalid menyatakan bahwa tingkat kerusakan alam di Samarinda harus diseriusi oleh pemerintah agar tidak terjadi korban selanjutnya.
Ditempat yang sama,KPAI menyampaikan akan segera menindaklanjuti dan berkoordinasi dengan pihak terkait. Seperti komnas HAM dan Kementerian LHK.
“Ini jelas pelanggaran pidana terutama terhadap hak-hak anak. Kami akan turun juga ke lokasi untuk ikut investigasi. Dari hasil investigasi, akan jadi langkah apa yang akan diambil KPAI,” ujar Maria Ulfah.
Putu Elvina meminta selalu diingatkan agar terbangun komunikasi berkelanjutan sampai kasus ini diselesaikan.
Koordinator Penggalang Dukungan JATAM Umbu Wulang mengingatkan agar KPAI harus menggunakan momentum ini agar bangsa ini punya contoh baik dalam penegakan hukum terkait perlindungan anak dari kekerasan struktural.
“Kasus Samarinda dapat menjadi pemicu bagi KPAI dalam menelisik semua kasus anak dilingkup eksploitasi sumber daya alam. Misalnya perusahaan mempekerjakan anak dibawah umur diwilayah pertambangan,” jelasnya.

Pertemuan ini berlangsung kurang lebih dua jam dan diakhiri dengan penyerahan dokumen laporan kepada komisioner KPAI oleh Misransyah, ayah almarhum Raihan.
“Kami berharap cukup anak kami yang terakhir menjadi korban di lubang tambang bekas batu bara di Samarinda. Kami dating kesini (Jakarta,red) untuk melaporkan kejadian ini,” tutur Misransyah dengan berlinang air mata.(Wulang)



Sekretariat: Graha Krama Yudha Lantai 4 Unit B No. 43, RT.2/RW.2, Duren Tiga, Kec. Pancoran, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12760

✉ jatam@jatam.org

☏ (021) 7997849


Tentang Kami

→ Profil Organisasi

→ Sejarah

→ Mandat

→ Keorganisasian

→ Etika

→ Pegiat


Kunjungi

→ Pemilu Memilukan

→ Save Small Islands

→ Potret Krisis Indonesia

→ Tambang gerogoti Indonesia


Konstituen

→ JATAM Kaltim

→ JATAM Sulteng

→ JATAM Kaltara






© 2024 Jaringan Advokasi Tambang