Oilwatch Mengutuk Persetujuan Paris yang Bersimbah Minyak


Selamatkan Karst

Oilwatch Mengutuk Persetujuan Paris yang Bersimbah Minyak


Oleh JATAM

14 November 2016





7413558668_416d7e61b1_b(7 November 2016, Marrakech) Saat ini telah diakui bahwa apabila tidak ada aksi-aksi nyata untuk mencegahnya, maka perubahan iklim merupakan krisis besar yang dapat berakibat fatal bagi bumi. Krisis ini hanya dapat diatasi secara efektif dengan menyasar akar permasalahan. Penyebab utamanya adalah pembakaran bahan bakar fosil oleh manusia dalam rangka menghasilkan energi.

Sejak awal revolusi industri, negara-negara industri telah mengambil alih hingga 80 persen dari kapasitas atmosfer untuk dapat menyerap emisi-emisi karbon. Pada kenyataannya, sedikitnya 80 persen dari bahan bakar fosil yang diketahui keberadaannya harus dibiarkan tak dibakar, untuk menghindari pemanasan global yang membencanakan serta menghindari perusakan pada lokasi-lokasi ekstraksi bahan bakar fosil.

Dengan fakta-fakta tersebut, Konferensi Para Pihak (Conference of the Parties/COP) dalam Konvensi Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Perubahan Iklim (UNFCCC) diharapkan dapat fokus untuk menjauhkan bumi dari skenario peningkatan suhu yang membencana. Namun sejauh ini, sebagaimana terlihat dalam Persetujuan Paris, yang terjadi justru penyangkalan terhadap kenyataan bahwa krisis ini berakar pada fiksasi buta terhadap peradaban yang bergantung pada minyak. Kita tidak boleh lengah, Persetujuan Paris bahkan tidak menyebutkan istilah “bahan bakar fosil,” dan kita juga tidak boleh lengah terhadap alasannya.

Dengan adanya keterwakilan yang menubuh dari pemangku kepentingan bahan bakar fosil dalam rangkaian perundingan, tidaklah mengagetkan bahwa persetujuan tersebut memperkuat kemampuan korporasi-korporasi bahan bakar fosil transnasional terus meraup laba dari proses ekstraksi dan pembakaran bahan bakar fosil.

Dalam waktu singkat, bangsa-bangsa seluruh dunia menandatangani Persetujuan Paris dan kini merayakan kecepatan masa keberlakuannya yang memecahkan rekor—dua tahun lebih cepat dari yang dijadwalkan. Oilwatch mencatat bahwa dukungan cepat terhadap Persetujuan ini didorong oleh kelonggaran yang diberikan Persetujuan tersebut kepada pemimpin-pemimpin politik untuk seakan-akan terlihat sebagai pendukung iklim; di sisi lain, Perjanjian ini menyediakan panggung bagi para pedagang karbon, lembaga keuangan, dan korporasi bahan bakar fosil untuk dapat menjalankan bisnis sebagaimana biasanya (business as usual).

Oilwatch International percaya bahwa jalur menuju aksi iklim yang nyata harus berdasarkan prinsip utama “tanggung jawab bersama yang dibedakan (common but differentiated responsibilities/CBDR)”, serta persyaratan yang dengan ketat mengikat bangsa-bangsa agar memotong emisi mereka pada sumber emisi tersebut, berdasarkan tanggung jawab dan kapasitas yang terkini dan menyejarah. Platform sekarang, berupa kontribusi yang ditetapkan secara nasional (Nationally Determined Contributions/NDCs), bersifat samar serta memiliki terlalu banyak persyaratan. Platform tersebut dapat diibaratkan bermain biola di saat planet sedang terbakar.

Oilwatch International menyeru kepada rakyat dari segenap bangsa di dunia untuk menekan pemimpin-pemimpin mereka yang tengah berkumpul di Marrakech, Maroko dalam rangka menghadiri COP22, agar menghadapi kenyataan bahwa Persetujuan Paris merupakan paket bisnis yang menciptakan mekanisme-mekanisme pasar baru di bawah kedok NDC dan memungkinkan hutan-hutan yang tersisa di dunia diambil alih. Persetujuan Paris juga merupakan dokumen politik yang menghindari aksi-aksi yang seharusnya dapat mencegah kondisi-kondisi cuaca yang lebih buruk, yang sekarang pun sudah melanda berbagai komunitas dan negara rentan di seluruh dunia.

Oilwatch menolak perayaan busuk dari sebuah persetujuan yang menjebak dunia pada jalur menuju ekstraksi yang ekstrem serta penghancuran wilayah, komunitas, dan Alam. Kami menuntut agar industri bahan bakar fosil dilarang dari COP, sebagai upaya untuk membuka pintu menuju kemajuan yang nyata. Sudah ada contoh dari industri tembakau yang dilarang dari Konvensi Kerangka Kerja Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tentang Pengendalian Tembakau (FCTC), sebagai prasyarat penting bagi kesuksesan kerja-kerja WHO dalam bidang kesehatan masyarakat.

Kami mengutuk Persetujuan Paris dan menuntut adanya transisi genting menuju peradaban pasca-minyak yang berdasarkan energi bersih dan terbarukan serta penghormatan terhadap hak-hak manusia dan Alam. Persetujuan Paris mempersiapkan planet ini untuk menghadapi tragedi yang dapat dihindari, yang timbul akibat kurangnya ambisi dan aksi. Pemanasan global tidak akan menunggu para politisi. Begitu pula, warga negara juga seharusnya tidak perlu menunggu.

Oilwatch menuntut pengakuan dan pembayaran utang iklim sebagai mekanisme sejati untuk pendanaan iklim, juga sebagai bentuk pemulihan terhadap perampokan dan perusakan ekologis yang telah terjadi selama berabad-abad.

Oilwatch menghormati dan bersolidaritas dengan penduduk-penduduk dunia yang berjuang menuntut keadilan di berbagai lokasi kejahatan iklim, seperti Standing Rock (North Dakota, AS), Ogoni (Nigeria), Yasuni (Ekuador), Sahrawi, serta mereka yang digusur dalam rangka perampasan tanah yang kaya akan minyak dan mineral untuk diekstraksi. Kami mengulangi panggilan kami untuk menciptakan dan mengakui berbagai komunitas, wilayah, dan bangsa Annex Zero, yang MENJAGA AGAR BAHAN BAKAR FOSIL TETAP BERADA DI BAWAH TANAH, sebagai aksi iklim sejati yang seharusnya dihormati ketimbang dikriminalisasi.

Sudah waktunya mengakhiri peradaban-minyak dan beralih ke peradaban yang dibangun di atas solidaritas antarmanusia serta penghormatan mendalam terhadap Alam.

Catatan* JATAM adalah Anggota Jejaring Aktif Oilwatch SEA. Untuk mengenal lebih lanjut tentang jejaring ini silahkan kunjungi http://www.oilwatch.org/en/











© 2024 Jaringan Advokasi Tambang





Selamatkan Karst

Oilwatch Mengutuk Persetujuan Paris yang Bersimbah Minyak


Share


Oleh JATAM

14 November 2016



7413558668_416d7e61b1_b(7 November 2016, Marrakech) Saat ini telah diakui bahwa apabila tidak ada aksi-aksi nyata untuk mencegahnya, maka perubahan iklim merupakan krisis besar yang dapat berakibat fatal bagi bumi. Krisis ini hanya dapat diatasi secara efektif dengan menyasar akar permasalahan. Penyebab utamanya adalah pembakaran bahan bakar fosil oleh manusia dalam rangka menghasilkan energi.

Sejak awal revolusi industri, negara-negara industri telah mengambil alih hingga 80 persen dari kapasitas atmosfer untuk dapat menyerap emisi-emisi karbon. Pada kenyataannya, sedikitnya 80 persen dari bahan bakar fosil yang diketahui keberadaannya harus dibiarkan tak dibakar, untuk menghindari pemanasan global yang membencanakan serta menghindari perusakan pada lokasi-lokasi ekstraksi bahan bakar fosil.

Dengan fakta-fakta tersebut, Konferensi Para Pihak (Conference of the Parties/COP) dalam Konvensi Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Perubahan Iklim (UNFCCC) diharapkan dapat fokus untuk menjauhkan bumi dari skenario peningkatan suhu yang membencana. Namun sejauh ini, sebagaimana terlihat dalam Persetujuan Paris, yang terjadi justru penyangkalan terhadap kenyataan bahwa krisis ini berakar pada fiksasi buta terhadap peradaban yang bergantung pada minyak. Kita tidak boleh lengah, Persetujuan Paris bahkan tidak menyebutkan istilah “bahan bakar fosil,” dan kita juga tidak boleh lengah terhadap alasannya.

Dengan adanya keterwakilan yang menubuh dari pemangku kepentingan bahan bakar fosil dalam rangkaian perundingan, tidaklah mengagetkan bahwa persetujuan tersebut memperkuat kemampuan korporasi-korporasi bahan bakar fosil transnasional terus meraup laba dari proses ekstraksi dan pembakaran bahan bakar fosil.

Dalam waktu singkat, bangsa-bangsa seluruh dunia menandatangani Persetujuan Paris dan kini merayakan kecepatan masa keberlakuannya yang memecahkan rekor—dua tahun lebih cepat dari yang dijadwalkan. Oilwatch mencatat bahwa dukungan cepat terhadap Persetujuan ini didorong oleh kelonggaran yang diberikan Persetujuan tersebut kepada pemimpin-pemimpin politik untuk seakan-akan terlihat sebagai pendukung iklim; di sisi lain, Perjanjian ini menyediakan panggung bagi para pedagang karbon, lembaga keuangan, dan korporasi bahan bakar fosil untuk dapat menjalankan bisnis sebagaimana biasanya (business as usual).

Oilwatch International percaya bahwa jalur menuju aksi iklim yang nyata harus berdasarkan prinsip utama “tanggung jawab bersama yang dibedakan (common but differentiated responsibilities/CBDR)”, serta persyaratan yang dengan ketat mengikat bangsa-bangsa agar memotong emisi mereka pada sumber emisi tersebut, berdasarkan tanggung jawab dan kapasitas yang terkini dan menyejarah. Platform sekarang, berupa kontribusi yang ditetapkan secara nasional (Nationally Determined Contributions/NDCs), bersifat samar serta memiliki terlalu banyak persyaratan. Platform tersebut dapat diibaratkan bermain biola di saat planet sedang terbakar.

Oilwatch International menyeru kepada rakyat dari segenap bangsa di dunia untuk menekan pemimpin-pemimpin mereka yang tengah berkumpul di Marrakech, Maroko dalam rangka menghadiri COP22, agar menghadapi kenyataan bahwa Persetujuan Paris merupakan paket bisnis yang menciptakan mekanisme-mekanisme pasar baru di bawah kedok NDC dan memungkinkan hutan-hutan yang tersisa di dunia diambil alih. Persetujuan Paris juga merupakan dokumen politik yang menghindari aksi-aksi yang seharusnya dapat mencegah kondisi-kondisi cuaca yang lebih buruk, yang sekarang pun sudah melanda berbagai komunitas dan negara rentan di seluruh dunia.

Oilwatch menolak perayaan busuk dari sebuah persetujuan yang menjebak dunia pada jalur menuju ekstraksi yang ekstrem serta penghancuran wilayah, komunitas, dan Alam. Kami menuntut agar industri bahan bakar fosil dilarang dari COP, sebagai upaya untuk membuka pintu menuju kemajuan yang nyata. Sudah ada contoh dari industri tembakau yang dilarang dari Konvensi Kerangka Kerja Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tentang Pengendalian Tembakau (FCTC), sebagai prasyarat penting bagi kesuksesan kerja-kerja WHO dalam bidang kesehatan masyarakat.

Kami mengutuk Persetujuan Paris dan menuntut adanya transisi genting menuju peradaban pasca-minyak yang berdasarkan energi bersih dan terbarukan serta penghormatan terhadap hak-hak manusia dan Alam. Persetujuan Paris mempersiapkan planet ini untuk menghadapi tragedi yang dapat dihindari, yang timbul akibat kurangnya ambisi dan aksi. Pemanasan global tidak akan menunggu para politisi. Begitu pula, warga negara juga seharusnya tidak perlu menunggu.

Oilwatch menuntut pengakuan dan pembayaran utang iklim sebagai mekanisme sejati untuk pendanaan iklim, juga sebagai bentuk pemulihan terhadap perampokan dan perusakan ekologis yang telah terjadi selama berabad-abad.

Oilwatch menghormati dan bersolidaritas dengan penduduk-penduduk dunia yang berjuang menuntut keadilan di berbagai lokasi kejahatan iklim, seperti Standing Rock (North Dakota, AS), Ogoni (Nigeria), Yasuni (Ekuador), Sahrawi, serta mereka yang digusur dalam rangka perampasan tanah yang kaya akan minyak dan mineral untuk diekstraksi. Kami mengulangi panggilan kami untuk menciptakan dan mengakui berbagai komunitas, wilayah, dan bangsa Annex Zero, yang MENJAGA AGAR BAHAN BAKAR FOSIL TETAP BERADA DI BAWAH TANAH, sebagai aksi iklim sejati yang seharusnya dihormati ketimbang dikriminalisasi.

Sudah waktunya mengakhiri peradaban-minyak dan beralih ke peradaban yang dibangun di atas solidaritas antarmanusia serta penghormatan mendalam terhadap Alam.

Catatan* JATAM adalah Anggota Jejaring Aktif Oilwatch SEA. Untuk mengenal lebih lanjut tentang jejaring ini silahkan kunjungi http://www.oilwatch.org/en/



Sekretariat: Graha Krama Yudha Lantai 4 Unit B No. 43, RT.2/RW.2, Duren Tiga, Kec. Pancoran, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12760

✉ jatam@jatam.org

☏ (021) 7997849


Tentang Kami

→ Profil Organisasi

→ Sejarah

→ Mandat

→ Keorganisasian

→ Etika

→ Pegiat


Kunjungi

→ Pemilu Memilukan

→ Save Small Islands

→ Potret Krisis Indonesia

→ Tambang gerogoti Indonesia


Konstituen

→ JATAM Kaltim

→ JATAM Sulteng

→ JATAM Kaltara






© 2024 Jaringan Advokasi Tambang