Dari Lapindo ke Seluruh Pulau: Menghadang Ekstraktivisme, Meneguhkan Veto Rakyat
Seruan Aksi
Dari Lapindo ke Seluruh Pulau: Menghadang Ekstraktivisme, Meneguhkan Veto Rakyat
Oleh JATAM
12 Mei 2026
Seruan Aksi Hari Anti-Tambang (HATAM) 2026
Di berbagai penjuru Indonesia, dari kampung pesisir hingga pegunungan, dari hutan adat hingga permukiman padat di kota-kota, ekspansi tambang dan industri ekstraktif terus merampas ruang hidup rakyat. Atas nama pembangunan, hilirisasi, transisi energi, dan “kepentingan nasional”, tanah digusur, air diracuni, udara dipenuhi debu dan asap. Kampung-kampung dipaksa menanggung banjir, longsor, lumpur, kekeringan, dan kebakaran yang bukan mereka ciptakan.
Ekstraktivisme hari ini bukan sekadar urusan lubang tambang. Ia adalah cara berkuasa yang menempatkan bumi, ruang hidup, dan tubuh manusia sebagai bahan baku, yang boleh diambil, diperas, dan dihancurkan demi keuntungan segelintir elite politik–ekonomi. Di atas kertas, angka pertumbuhan ekonomi dan ekspor komoditas dipamerkan. Di tapak krisis, warga kehilangan rumah, lahan pangan, sumber air, kesehatan, rasa aman, bahkan memicu kematian.
Mereka yang bersuara—petani, nelayan, masyarakat adat, buruh, perempuan, pemuda, jurnalis—justru sering berhadapan dengan intimidasi, kriminalisasi, dan kekerasan. Negara lebih sigap melindungi konsesi dan aset korporasi, dibanding melindungi hak rakyat atas tanah, air, dan lingkungan hidup yang sehat. Inilah wajah telanjang rezim ekstraktif: menjadikan kepentingan industri ekstraktif sebagai kepentingan negara, sambil menyingkirkan warga yang mempertahankan ruang hidupnya.
Namun di tengah daya rusak yang menggurita, sesuatu yang lain juga sedang tumbuh: perlawanan warga biasa.
Di banyak kampung, warga menolak menandatangani persetujuan yang dipaksakan, menutup jalan alat berat dan jalur hauling yang melintasi desa, menggantung spanduk di badan ekskavator, mengusir kendaraan perusahaan, mengorganisir dapur umum, menghadiri dan mengawal sidang-sidang pengadilan, menulis petisi, membangun media komunitas, membuat film dan mural tentang luka di kampung mereka, menggelar panggung rakyat, serta menghidupkan kembali ritual adat, doa bersama, dan ziarah ke makam leluhur sebagai cara menyusun kekuatan.
HATAM 2026 mengusung tema: “Dari Lapindo ke Seluruh Pulau: Menghadang Ekstraktivisme, Meneguhkan Veto Rakyat”.
Tema ini lahir dari kesadaran bahwa tragedi Lumpur Lapindo bukan kecelakaan tunggal, melainkan cermin dari bagaimana rezim ekstraktif bekerja di seluruh Indonesia. Dua puluh tahun setelah semburan pertama, lumpur masih menyembur dan warga Porong masih hidup dalam bayang-bayang bencana, pada saat yang sama, pola perampasan yang sama kini menghantam nikel, batubara, geothermal, karst, emas, PSN, dan proyek-proyek energi yang diklaim “hijau” di berbagai pulau.
Dengan kembali ke Porong, HATAM 2026 menghubungkan luka Lapindo dengan luka di kampung-kampung lain, menjadikan Porong titik tolak untuk menyatukan garis perlawanan dari Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, hingga Papua.
Baca selengkapnya: Seruan Aksi HATAM 2026
© 2026 Jaringan Advokasi Tambang
